Tuesday, October 28, 2008

Saya Hanya Ingin Diberi Kesempatan

Semoga Kisah ini memberikan inspirasi dan membangkitkan semangat Anda

Kisah Perjuangan Gadis Tuna Netra Jadi PNS “Saya Hanya Ingin Diberi Kesempatan”

Tak seorangpun di dunia ini ingin mendapat musibah yang mengakibatkan cacat. Begitu pula Tantri Maharani (32), yang mengalami kebutaan setelah mengalami kebutaan setelah mengalami kecelakaan saat duduk di kelas 1 SMP Negeri 12 Surabaya pada tahun 1988 lalu.

Namun, kebutaan itu bukan halangan bagi Tantri untuk menggapai cita-citanya. Berkat dukungan dari keluarganya, semangatnya yang sempat padam menyala lagi. Ia pun kembali melanjutkan sekolah, setelah sempat dua tahun berhenti.

Hebatnya lagi, Tantri melanjutkan pendidikannya di sekolah negeri, termasuk saat di jenjang universitas. Selepas SMUN 18 pada tahun 1992, ia diterima di Universitas Negeri Surabaya. Pada tahun 2000 lalu, ia meraih gelar Sarjana Bahasa Inggris.

Lagi-lagi, Tantri ingin membuktikan bahwa cacat tuna netra bukan halangan untuk meraih cita-cita layaknya orang normal. Pada tahun 2004, ia mendaftarkan diri untuk ikut tes rekruitmen CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di Dinas Pendidikan Kodya Surabaya.

Pilihannya, menjadi guru Bahasa Inggris untuk SLB (Sekolah Luar Biasa) setingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Sayang, system perekrutan calon pegawai negeri pada saat itu seakan-akan masih mendiskriminasikan orang-orang yang berkebutuhan khusus (cacat). Pihak panitia tak mengizinkan saya ikut. Alasannya, saya tuna netra, tutur di rumahnya di Jalan Karang Rejo Sawah I/35.

Tak Patah Semangat
Tantri pun mencoba minta penjelasan pada pihak panitia. Namun, jawaban yang diterimanya terkesan meremehkan, “Mereka menjawab dengan acuh tak acuh. Saya diminta kembali esoknya,” kenang gadis kelahiran 7 Agustus 1974 ini.

Tantri tak pernah semangat. Esok nya ia kembali lagi ketempat pendaftaran di Asrama Haji Sukolilo, dengan diantar kakaknya. Apa yang terjadi? Tantri kembali ditolak.

Meski ditolak untuk ke dua kalinya, Tantri tak patah arang. Ia mencoba mendaftarkan diri di panitia CPNS Sidoarjo. Malang, kembali ditolak. Malah kali ini lebih menyakitkan.

“Anda mau ngapain? Anda tidak bisa mendaftar disini. Anda tidak bisa mengajar di sekolah umum,” ujar Tantri, menirukan perkataan petugas CPNS saat itu.

Sebenarnya, tak banyak yang dituntut oleh gadis berjilbab ini. Hanya sebuah kesempatan yang sama seperti orang-orang pada umumnya dalam mendapatkan pekerjaan.

“Saya hanya ingin diberi kesempatan saja, masalah hasilnya biar tim penilai yang menentukan,” ucap Tantri.

Karena penolakan itu, Tantri bersama rekan-rekannya senasib berjuang mendapatkan hak-haknya. “Saya bersama teman-teman di Persatuan Penyandang Cacat Indonesia menggelar demo damai. Pernah juga kami menyurati Walikota Surabaya,” katanya.

Secercah harapan datang saat Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Surabaya tahun2005. Pada saat itu terjadi kontrak politik antara para Cawawali dengan Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPGI). Isinya, jangan sampai ada diskriminasi lagi dalam perekrutan CPNS.

Setelah menjalani perjuangan panjang dan berat, Tantri diperbolehkan mengikutinya. Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata, putri bungsu dari pasangan Sutartono dan almarhum Siti Nurhayati ini pun mendaftarkan diri pada tanggal 7 Februari di kodam V Brawijaya.

Mempersiapkan
Masih sama seperti sebelumnya, Tantri mendaftar sebagai pendidik atau guru Bahasa Inggris untuk SLB (Sekolah Luar Biasa) setingkat Sekolah Menengah Pertama. Setelah mendaftar, Tantri pu mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian.

Ia pun memulainya dengan membaca buku dan mempelajari soal-soal CPNS tahun-tahun sebelumnya. Karena materi yang diujikan pada tahun-tahun sebelumnya sama. Yaitu seputar kepegawaian, Undang-undang Dasar, sejarah, GBHN, dan pengetahuan umum.

Cara yang dipakai Tantri untuk belajar cukup unik. Soal-soal tersebut dibacakan oleh saudaranya, atau salah seorang teman, kemudian direkam dalam sebuah kaset yang nantinya dapat ia putar sewaktu-waktu untuk dipakainya belajar.

“Saya mencari jawabannya dengan cara serupa. Saudara atau teman membaca literature-literatur yang diujikan, lantas saya rekam. Kemudian, saya dengar berulang kali untuk mencari jawabannya,” terangnya. Pelaksanaan ujian pun berbeda dengan para peserta lainnya. Bagi peyandang tuna netra disediakan tempat khusus. Saat pelaksanaan ujian di Kodam V Brawijaya, Tantri merasa sedikit cemas. Karena pendikte naskah soal disediakan langsung oleh penyelenggara ujian.

“Sempat khawatir, karena pendikte dari sana. Saya takutnya, mereka belum terbiasa mendiktekan tuna netra. Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti. Semuanya lancar, katanya.

Walhasil, dari 100 soal pilihan ganda dengan waktu ujian 2 jam, Tantri mampu menyelesaikan dengan cepat. Bahkan, waktu yang disediakan masih tersisa dan bisa ia gunakan untuk memeriksa kembali. “Apapun hasilnya bukan persoalan buat saya. Yang penting, saya dan teman-teman senasib sudah diberi kesempatan,” tukas Tantri, dengan tersenyum.

Ya, kesempatanlah yang dicari Tantri dan teman-teman senasibnya. Sebenarnya, merekapun tak ingin mendapatkan cacat fisik. Tapi, takdirlah yang menentukan. Dan takdir yang mengubah jalan hidup Tantri terjadi pada pertengahan Juli 1988 lalu.

Diungkapkannya, saat terserempet mobil, ia jatu terjerambab dengan sepeda pancalnya. Dia, tak mengalami luka sampai parah, namun kemudian, penglihatannya mulai kabur. Diantar orangtuanya, ia periksa ke dokter mata. Ternyata, dokter menyarankan mata Tantri dioperasi.

“Sampai sekarang saya tak tahu persis penyebab kebutaan saya. Tapi kata orang tua saya kemungkinan karena kecelakaan itu,” terangnya. Meskik menjalani operasi sebanyak 3 kali di RSU dr Soetomo, penglihatan Tantri semakin kabur. Sampai akhirnya mengalami kebutaan total. Tantri menyebut, almarhumah ibundanyalah yang sangat membantu melewati masa-masa awal yang sangat sulit itu.

Akibat kebutaan itu, Tantri pindah ke SMPLB (Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa) di Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB). Karena Tantri merupakan murid yang pintar, guru-guru di YPAB pun mengusahakn agar Tantri bisa masuk ke sekolah umum tingkat SMU. Perjuangan keras Tantri membuahkan hasil. Ia diterima si SMU Negeri 18 Surabaya.

Diterima Aktivitas belajar-mengajar pun tak berbeda, ruang kelas pun sama. Cuma, ia merekam semua materi yang diterangkan oleh gurunya dalam kaset untuk didengarkan kembali di rumah. Jika ada tugas dan ulangan, ia menggunakan mesin tik manual. Kalau ujian, gurunyalah yang membacakan soal-soalnya.

Selepas SMU, Tantri ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Tak disangka, seorang yang berkebutuhan khusus bisa diterima di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) jurusan Bahasa Inggris. Ia pun segera mendaftarkan diri ke panitia UMPTN. Namun, saat akan mengikuti UMPTN, Tantri kembali mendapat ujian. Ibunya meninggal dunia karena sakit.

Beruntung, Tantri mempunyai keluarga yang terus memompa semangatnya. Tantri pun diterima di UNESA. Di Universitas, cara belajarnya sama dengan di SMU. Prestasi pun di ukir Tantri. Ia diwisuda dengan Indeks Prestasi Kumulatif yang memuaskan, 3,11. Selain kuliah, Tantri juga jadi pengajar di YPAB.

Satu-satunya yang Memiliki Ijazah Nasional
Di Mata para pengajar YPAB, Tantri memiliki kecerdasan yang luar biasa. “Daya ingatnya tinggi dan mudah menangkap apa yang diberikan para gurunya,” ujar Karniadi, salah satu pengajar YPAB. Sejak kali pertama melihat Tantri, Karniadi yakin anak itu kalau mempunyai kemampuan lebih “Keyakinan saya terbukti. Prestasi akademik selalu diraihnya,” ujar Karniadi.

Hal itulah yang mendorong Karniadi untuk memperjuangkan Tantri agar bisa mengikuti ujian Nasional tingkat SLTP. Perjuangan itu tak sia-sia. Tantri diperbolehkan mengikuti ujian Nasional. Tak ayal, ijazah nasional pun berada di genggamannya. Istimewanya lagi, Tantri adalah salah satunya tuna netra yang memiliki ijazah Nasional.

Tantri, satu-satunya tuna netra yang memiliki ijazah Nasional. Saya sangat bangga, terangnya. Tidak haya sampai lulus SLTP, Tantri pun dipejuangkan oleh para guru untuk bisa bersekolah di sekolah umum tingkat SLTA. Tidak mudah dalam meyakinkan para kepala sekolah dan guru sekolah umum agar bisa menerima murid dengan kebutuhan khusus. Namun perjuangan tetap dilakukan oleh Karniadi.

Berbagai pertanyaan dan keraguan muncul dari berbagai pihak sekolah. Namun Karniadi dengan mantap menjelaskan bahwa tuna netra mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum, meskipun caranya memang agak berbeda.”Banyak sekali yang meragukan. Namun saya tetap berusaha meyakinkan bahwa Tantri mampu mengikuti pelajara,”ujarnya. Akhirnya kesempatan itupun datang. Setelah mengikuti tes, pada tahun 1991, Tantri diterima di SMU Negeri 18 Surabaya. Tak ada perlakuan yang berbeda pada Tantri.

Menurut Karniadi, Tantri sangat mudah bergaul. Tantri mempunyai banyak teman di sana, dan tidak ada yang membedakannya.”Dia anak yang mudah bergaul. Dia tidak merasa minder dengan kondisinya,” ungkapnya.

Sumber : Nyata

Labels: ,


BACA SELENGKAPNYA >>KLIK DISINI...

Friday, October 17, 2008

Are you serving?

"You may be good, but what are you good for? You’ve got to be good for something. You’ve got to be about some project, some task that requires you to be humble and obedient to the universal principles of service."

-- Stephen R. Covey

"We had to learn ourselves, and furthermore we had to teach the despairing men, that it did not matter what we expected from life, but rather what life expected from us. We needed to stop asking about the meaning of life but instead to think of ourselves as those who were being questioned by life, daily and hourly. Our answer must consist not in talk and medication, but in right action and in right conduct. Life ultimately means taking the responsibility to find the right answer to its problems and to fulfill the tasks which it constantly sets for the individual."

-- Victor Frankl

"If you think you're too small to have an impact, try going to bed with a mosquito in the room."

-- Anita Roddick

Labels:


BACA SELENGKAPNYA >>KLIK DISINI...

Wednesday, January 16, 2008

ANAK YANG MENCORET MOBIL AYAHNYA

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?...Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

(dikutip dari milis EMBA, dan debritto)

Anda punya komentar tentang artikel diatas dan ingin membagikan ke pembaca yang lain? silahkan tulis di bagian komentar

Labels: ,


BACA SELENGKAPNYA >>KLIK DISINI...

Monday, September 03, 2007

PROMO : Yoga Postures for Your Mind,Body & Soul

Yoga Postures for Your Mind,Body & Soul

Yoga merupakan suatu tehnik yang dapat digunakan untuk merelaksasikan tubuh kita. Beberapa orang menganggap yoga sebagai suatu tehnik yang dapat digunakan untuk merevitalisasi jiwa dan energi.

Yoga mengkombinasikan latihan fisik, yaitu bentuk-bentuk gaya/postur tubuh, dan latihan mental yang mana adalah kesadaran pernapasan, memfokuskan perhatian, dan spiritual.

Bersama dua orang asistennya, yang bernama Amanda dan Michaela, Sue Walker akan mengajarkan kita tehnik melakukan yoga yang baik.

Beberapa gerakan yoga yang diajarkan adalah : Mountain pose,Tree pose ,triangle pose , Cat and dog pose ,Cross legged position.

Dan gerakan-gerakan yoga lainnya

Tipe : VCD - Original from GoodLife Entertainment
Harga : Rp. 29.000*

Untuk pembelian, silahkan hubungi kami di :
HP/SMS : 0852 2802 5480 / 022-92019123
Email : yogha01@yahoo.com.sg

KLIK DISINI --> TESTIMONY PELANGGAN KAMI

Labels: ,


BACA SELENGKAPNYA >>KLIK DISINI...