Bahagia ada pada Jiwa yang Bisa Bersyukur
Oleh : Yogha
Pernah membayangkan, bagaimana seseorang menulis buku, bukan dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, tetapi dengan kedipan kelopak mata kirinya?
Atau pernahkah Anda membayangkan seorang wanita yang hanya mempunyai satu kaki normal, satu kaki dan dua tangannya tidak bisa tumbuh normal (sama sekali tidak tumbuh), tetapi bisa melukis dengan kaki juga mampu pergi kemana-mana dengan rasa percaya diri dan sedikit sekali butuh bantuan orang lain. Kebetulan saya pernah bertemu wanita tersebut saat bersama-sama kita menjenguk seorang teman yang sakit di rumah sakit Boromeus Bandung.
Pernahkan juga Anda membayangkan seorang wanita yang sama sekali postur tubuh tidak normal, susah berjalan ataupun berdiri jika sudah duduk - apalagi kalau duduk dilantai. Tetapi wanita ini punya hati yang kuat untuk menjalani hidup dan mengelolanya dengan baik. Wanita ini secara khusus sangat berarti dalam hati saya dan menjadi "guru hidup" saya selama ini. Bagaimana tidak luar biasa? saat ini wanita ini manajer dua buah (bukan hanya satu!) Salon di Bandung dan partner saya pribadi dalam hal diskusi tentang apapun.
Jika Anda mengatakan itu hal yang mustahil untuk dilakukan, tentu saja Anda belum mengenal wanita-wanita luar biasa diatas; Jean- Dominique Bauby menulis dengan kedipan kelopak mata kiri, Patricia melukis dengan kaki untuk membiayai program-program pelayanan bagi orang-orang berkebutuhan khusus (cacat fisik), ataupun dengan Tuti yang mampu mengelola dua buah Salon. Namanya Salon Jessie, Alamat Jessie Salon yang dia kelola bisa Anda baca di http://www.Kota-Bandung.Info/jessie-salon.html
Saya tidak akan muluk-muluk memberikan contoh orang-orang luar biasa dari luar negeri. Tapi cukup dari orang yang saya kenal yaitu Patricia dan Tuti.
Patricia
Saya mengenal Patricia lewat kakaknya yang kebetulan teman dalam salah satu milis di internet. Patricia ini sudah cacat fisik sejak lahir dengan hanya satu kaki yang tumbuh normal. Jika Anda berada didekatnya mungkin perasaan Anda akan sama dengan perasaan saya waktu itu yaitu rasa kasihan dan iba. Tetapi Patricia bukanlah wanita yang hanya menerima begitu saja perasaan iba dari orang lain dan terus bergantung hidupnya.
Dengan kemampuan yang sangat terbatas, susah berjalan dengan hanya satu kaki normal, saya membuktikan sendiri bahwa Patricia mampu berjalan dari halaman parkir rumah sakit Boromeus di Bandung, masuk lift dan menuju ke kamar seorang bayi yang sedang sakit . Dan kita ada disana untuk bersama-sama berdoa bagi kesembuhan si anak tersebut. Sepulang dari Boromeus kita pergi ke sebuah rumah makan, dengan hanya sedikit bantuan kita untuk mendekatkan semua peralatan makan Patricia mampu makan dengan menggunakan kaki-nya yang cacat untuk memegang sendok sambil kita bersenda gurau..Luar bisa bukan?!
Tidak hanya itu ternyata Patricia juga sangat aktif dalam organisasi-organisasi pelayanan bagi orang-orang berkebutuhan khusus ( baca cacat fisik). Bahkan dia adalah donatur sekaligus duta bagi organisasi tersebut. Dia tidak menggunakan kekurangan fisiknya untuk bisa menghidupi organisasi dan dirinya ( sebaliknya kita melihat begitu banyak orang normal berlagak tidak normal dan minta dikasihani oleh orang lain)
Tetapi dia melukis dan lukisan itu dia jual, bukan hanya lukisan yang tidak ada nilainya tetapi benar-benar lukisan yang indah dan bernilai seni. Dia melukis dengan kaki!
Tuti
Hal yang sama (cacat fisik sejak lahir) juga menjadi bagian hidup dari Tuti, tidak bisa pergi kemana-mana sendiri karena memang tidak bisa karena kecacatan fisiknya, tetapi berkat dorongan keluarga dia tumbuh menjadi wanita yang luar biasa. Walaupun fisik tidak bisa diajak kompromi untuk pergi ke suatu tempat menuju tempat lain. Tapi dia adalah wanita yang sukses kalau mengelola suatu acara dengan hanya bermodal-kan telepon. Mulai dari mengurus pencetakan selebaran, pencetakan buletin dan bahkan menjadi panitia penerimaan tamu dalam sebuah acara, Tuti mampu melakukannya.
Cacat fisik dimana Tuti susah berjalan dengan normal dalam tempo yang tidak terlalu lama ( cepat merasa lelah) dan susah berdiri jika sudah duduk apalagi kalau duduk di lantai, sama sekali harus cari bantuan orang lain atau berjalan sambil duduk (istilah jawa-nya "ngesot") untuk mencari pegangan dan dengan susah payah baru bisa berdiri.
Tetapi kekurangan fisik tidak menyurutkan Tuti untuk mengelola salon , diawali dengan mengelola sebuah salon dan hanya dengan tempo kurang dari 2 tahun sudah menjadi dua buah salon di Bandung.
Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup mereka ( Patricia dan Tuti) bukan?
Saya yakin kalau Anda dan saya membayangkan seperti mereka mungkin hanya perasaan stress, rendah diri,tidak bisa berpikir jernih dan frustrasi yang akan mengisi hidup kita. Atau mungkin sempat terpikir untuk bunuh diri....mengakhiri penderitaan hidup ini.
Jangankan membayangkan seperti mereka, dengan keadaan tubuh kita yang normal saja sekarang ini, bisa makan 3 kali sehari mungkin sedikit sekali dari kita yang mampu mensyukurinya...setiap kali ketemu orang lain, tidak habisnya kita membicarakan kesulitan hidup, perasaan stress, beban hidup dan hal-hal yang negatif lainnya.
Dengan harapan orang lain menjadi iba dan mau menolong kita, Anda tahu tidak? ketika Anda sering membicarakan kesulitan hidup, masalah hidup dan hal-hal negatif tersebut. Anda tidak menyelesaikan masalah karena Anda fokus pada masalah sehingga masalah-masalah tersebut tetap ada dan Anda tidak bisa menyelesaikannya karena Anda kehilangan kepercayaan diri untuk mampu menyelesaikannya akibat Anda tidak fokus pada penyelesaian tetapi fokus pada masalah.
Ingat.. jika memang Anda merasa seperti hal diatas; beban hidup, stress, frustrasi dan sebagainya.Saya katakan "Berapa pun problem dan stres dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan masalah yang dihadapi Patricia dan Tuti!"
Dengan tetap hidup dalam kekurangan fisik dan dalam hal-hal tertentu memang butuh bantuan orang lain untuk bisa melakukannya, misal bantuan mengantarkan dari suatu tempat ke tempat lain atau acara ke acara lain yang cukup jauh jaraknya. Patricia dan Tuti tetap mampu menunjukkan senyum yang tulus dan ketika orang lain melihat senyum itu bukan perasaan iba yang timbul tetapi "senyum" itu akan mengalir ke orang lain tersebut sehingga orang tersebut menjadi ikut tersenyum dan bahagia!
Patricia dan Tuti adalah contoh hidup bagaimana bisa menerima kekurangan hidupnya, mensyukurinya dan mampu mengelolanya dengan segala keterbatasan serta menikmatinya dengan orang lain ( yang normal maupun yang cacat). Bahkan kesuksesan mereka saat ini bahkan mungkin melebihi kesuksesan kita yang tidak ada kekurangan fisik apapun.
Mereka tidak menyerah kepada nasib tetapi MAMPU MEMBALIK KEKURANGAN MENJADI KELEBIHAN dalam hidup mereka DAN MAMPU MENJADI BERKAT BAGI ORANG LAIN. Patricia dengan karya lukisnya mampu menghidupi organisasi dimana anggotanya orang-orang yang berkebutuhan khusus, Tuti mampu menghidupi karyawan-karyawan salon-nya yang notabene berkeahlian (mulai dari hairstylist sampai dengan satpam) dan bertubuh normal.
Mereka tetap hidup optimis dengan segala kekurangan fisiknya!.
Sedangkan kita yang tidak se-noktah-pun kekurangan fisik dan tidak mempunyai problem hidup seperti kedua wanita , Patricia dan Tuti,ini. Mungkin kita menjadi manusia yang lebih dari 10 kali mengeluh setiap hari dan sebaliknya tidak sekalipun keluar rasa syukur atau bahkan terlintas rasa syukur tersebut dalam benak dan pikiran kita.
Kita menjadi manusia yang suka mengeluh dan menggerutu! , mengeluh karena cuaca yang panas padahal kita hendak pergi kesuatu tempat untuk urusan yang penting dan harus menggunakan angkutan umum atau sepeda motor.
Mengeluh karena hari ini omzet proyek/toko/dagangan kita kurang dari syarat minimal dapat bonus...
Mengeluh karena mau di PHK (baru mau/belum di PHK beneran) dan mau makan dari mana nantinya kalau di PHK, stress sudah terbayang dibenak kita....
Kenapa kita tidak meneladani wanita-wanita yang saya ceritakan di artikel ini ? mereka bukan superwoman, mereka bukan tokoh khayalan tetapi benar-benar saksi hidup dan bisa Anda jumpai (jika memang Anda berniat mau ketemu).
Kalau Anda berkata "ahh... itu khan 1 dari 1000 orang" saya akan katakan Anda lebih dungu dari seekor keledai dungu!
Seekor keledai-pun betapa dungu-nya hewan tersebut tidak mau jatuh dalam kubangan yang sama, apalagi kita manusia dan bertubuh normal jauh diatas keadaan fisik wanita-wanita yang saya ceritakan dalam artikel ini.
Jika memang Anda tetap menjawab "..ahhh itu khan keajaiban" sekali lagi saya akan katakan bodohnya Anda jika kita tidak mau menikmati keajaiban hidup.
Carl Jung, pernah menulis demikian: "Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup!"
Maka, betapapun kacaunya keadaan kita saat ini,bagi yang sedang stres berat, yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan orang lain, atau anggota keluarga yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, yang baru mendapat musibah kecelakaan atau bencana, bagi yang sedang di-PHK, ingatlah kita masih bisa menelan ludah, masih bisa makan dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Maka bersyukurlah, dan berbahagialah...!
Jangan menjadi pengeluh, penggerutu, penuntut abadi, tapi bijaksanalah untuk bisa selalu think and thank (berpikir, kemudian berterima kasih/ bersyukurl).
Dengan bersyukur dan berbahagia Anda tidak hanya menjadikan diri Anda sendiri bahagia seperti dikisahkan dalam DVD The Secret karya Rhonda Byrne, tetapi Anda juga mampu menularkan rasa syukur dan bahagia itu ke sekeliling Anda
Mari kita hadapi hidup dengan tabah karena orang-orang beruntung bukan tidak pernah gagal. Bukan tidak pernah ditolak,juga bukan tidak pernah kecewa. Justru banyak orang yang sukses itu sebetulnya orang yang telah banyak mengalami kegagalan.
Mari kita berpikiran positif, Kita akan menjadi orang yang beruntung. Banyak cerita tentang keberuntungan berasal dari kejadian-kejadian yang tidak menguntungkan. Misalnya, kehilangan pekerjaan memunculkan ide besar untuk mulai bisnis sendiri dan menjadi majikan. Ditolak pun bisa mendatangkan kesuksesan.
Tetapi, untuk mendapatkan keberuntungan diperlukan usaha. Dan mari kita mulai sekarang juga untuk berusaha!
Saya menuliskan kisah ini bukan hanya untuk mengolok-olok dan bukan karena saya sudah sukses dan mampu mengatasi segala rintangan hidup.
Saya mungkin saat ini seperti Anda, juga sedang berjuang mencapai apa yang kita impikan dalam hidup. Tetapi saya mau belajar dari orang-orang disekitar saya (Patricia dan Tuti) bagaimana mereka mampu bersyukur dengan segala keberadaan mereka, tidak mau tinggal dalam masalah dan meyelesaikannya, menjadikan ketidakberuntungan menjadi keberuntungan, dan menjadi berkat bagi orang lain. Dan ingin membagikannya ke Anda
Artikel ini diilhami oleh artikel dengan judul yang sama karya Lianny Hendranata dan saya persembahkan untuk Sahabat saya Patricia dan Wanita yang selalu menjadi teman terdekat saya Tuti, Juga kepada orang-orang yang tetap mempunyai semangat dan motivasi untuk mencapai impian hidupnya.
PROMO JULI : Marketing Revolution by Tung Desem Waringin
Labels: kisah nyata pembangkit semangat, motivasi









0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home